MA Alif Laam Miim surabaya lagi lagi menorehkan prestasi pada bidang
baris-berbaris atau LKBB (lomba baris berbaris) kemarin (21/9) pada lomba LKBB
sahara 2025 yang diselenggarakan oleh sekolah MAN Surabaya.
Perlombaan ini dihadiri oleh berbagai sekolah yang ada di Jawa Timur
seperti dari Tuban, Gresik, Sumenep, dll. Sehingga ini menjadi suatu hal yang
sangat berharga bagi kami karena dapat bertanding melawan sekolah-sekolah luar
yang notabene sudah memiliki pengalaman yang lebih dari kami bahkan bisa jadi
mereka adalah tim-tim profesional, karna pada dasarnya kami pasukan dari MA
Alif Laam Miim adalah pasukan amatiran yang memiliki pengalaman yang tidak seberapa pada bidang ini sendiri.
Akan tetapi meskipun kami adalah pemula, kami tak gentar dan tak pesimis, mental dan jiwa kami adalah mental pemenang dan petarung. Kami kemarin sangat optimis untuk menang. Hal itu kami buktikan dengan
keseriusan kami saat latihan yang kami jalani selama kurang lebih 1 bulan.
Awalnya lomba ini dilaksanakan pada tanggal 6 september, akan tetapi karena
satu dua hal, lomba ini diundur hingga 2 minggu kemudian atau pada
tanggal 21 september. Hal ini menjadi keuntungan bagi kami karena dapat berlatih
extra dan tampil lebih maksimal. Hingga akhirnya hari perlombaan tiba,
kami sudah dalam keadaan yang benar-benar siap untuk bertarung di lapangan.
Saat kami telah tiba di MAN kami langsung registrasi pendaftaran dan
kemudian diarahkan menuju basecamp, setelah itu kami bersiap-siap hingga
akhirnya kami dipanggil untuk menuju DP absen yang berada di aula MAN dan foto
diatas panggung dengan piala-piala yang akan jadi milik kami (*harapannya).
Kemudian setelah itu kami diarahkan menuju DP, sebelum akhirnya memasuki
lapangan perlombaan. Saat itu, adalah waktu yang dinantikan, tiba saat giliran kami memasuki lapangan perlombaan dengan
penuh gagah dan percaya diri untuk tampil. panas terik matahari itu tidak menyurutkan tekad dan semangat kami.
Ada pepatah yang menyebutkan “sesuatu yang berlebihan itu tidak baik”. Seharusnya kami mengamalkan
pepatah tersebut hanya saja karna saking semangatnya kita dan terbawa euforia
melalaikan kami dari nasihat tersebut. Saat kami tampil kami terlalu
bersemangat dan terlalu “over power” sehingga apa yang telah kami
latih selama ini tidak sesuai saat
berada di lapangan, saat itu kesalahan yang paling terlihat adalah tempo kami
yang terlalu cepat sehingga nilai yang kami dapatkan tidak sempurna. Maklum
saja karna ini merupakan first experience kami.
Seusai kami tampil kami berfoto bersama kemudian kembali ke basecamp untuk
istirahat hingga sore hari. Ketika adzan ashar berkumandang, kami di bangunkan
untuk membersihkan basecamp dan shalat ashar. Setelah itu semua pasukan berkumpul dilapangan untuk menunggu
pengumuman pemenang. Terdapat pula penampilan dari band sekolah MAN untuk
hiburan bagi peserta sembari menunggu pengumuman pemenang. Akhirnya setelah
beberapa saat, sekitar jam 5 sore dimulailah pengumuman pemenang.
Pada saat itu kami sangat berharap agar nama sekolah kami tidak segera
dipanggil, karna semakin tidak dipanggil-panggil semakin baik. Saat itu
perasaan kami sangat campur aduk, gugup, senang, khawatir, semua jadi satu.
Hingga tak lama kemudian akhirnya nama sekolah kami dipanggil, dan ya... kami
mendapat juara satu purwa.
Ketika mengetahui hal tersebut kami benar-benar kecewa dan sedih, latihan
kami selama satu bulan hanya terbayarkan oleh tingkatan purwa, kami benar benar
tidak puas. Bagi kami ini sangat tidak sesuai harapan, mental kami telah diuji
berlatih untuk pencapaian tingkatan yang lebih memuaskan.
Seusai mengambil piala, kami lalu ke masjid untuk melaksanakan salat maghrib berjamaah dan menunggu jemputan untuk pulang dan kembali ke pondok pesantren. Setibanya kami di pondok, kami kembali ke kamar masing masing, kami makan bersama kemudian beristirahat, sembari mengintrospeksi diri.
Sungguh sebenarnya ini adalah pengalaman serta pelajaran yang sangat-sangat
berharga dan tidak dapat kami lupakan karena ini merupakan pengalaman pertama
bagi kami, dan kami sadar bahwa karena ini adalah pengalaman pertama, maka
mendapat piala purwa bukanlah sesuatu yang amat buruk dan lumayan membanggakan
sehingga kami mencoba untuk menerima “kemenangan” ini dengan lapang
dada. Selama kami latihan, kami juga mendapat banyak pelajaran tentang
kedisiplinan, kekompakan, membangun chemistry dll.
Semoga di tahun berikutnya pasukan paskib MA Alif Laam Miim dapat semakin
meningkatkan prestasinya. Aamiin
Salam dari Arjuna
Yassar Wijoyo, duta literasi aliyah kelas X A yang berkesempatan sebagai
anggota paskib MA Alif Laam Miim.

