Istihlal PPK Alif Laam Miim dan LPI Al-Haramain: Momentum Merajut Ukhuwah dan Menguatkan Silaturahim


Surabaya (4/04/25) Acara istihlal perdana yang diselenggarakan oleh PPK Alif Laam Miim bersama LPI Al-Haramain pada pagi hari ini berlangsung dengan penuh kebahagiaan yang luar biasa. Kegiatan tersebut menjadi momen yang sangat istimewa karena dihadiri langsung oleh Murabbi Ruhina, KH. Muhammad Ihya Ulumiddin, selaku pengasuh Pondok Pesantren Al-Haramain sekaligus pembina Yayasan Persyada Al-Haramain. Kegiatan istihlal ini bertempat di Masjid PPK Alif Laam Miim Surabaya dengan diikuti oleh segenap asatidz dan seluruh karyawan. 

Para asatidz dan segenap karyawan berkumpul bersama dengan penuh suka cita dan tawa ceria. Keceriaan semakin terasa dengan adanya game keakraban yang dipandu langsung oleh Ustadzah Yuliani dan Ustadzah Nurul. Tawa pun pecah, menyelimuti raut wajah saudara-saudara seperjuangan dalam dunia pendidikan dibawah yayasan PPK Alif Laam Miim dan LPI Al-Haramain pagi hingga siang hari ini.


Ibu Nyai Hj. Dra. Ida Rohmah Susiani, M.M. menyampaikan bahwa acara istihlal ini tidak lain bertujuan untuk meneguhkan ukhuwah, menguatkan kerja sama, serta membangun sinergi dalam pendidikan ila yaumil qiyamah menuju rida Allah Swt yang menuntun perjalanan kita semua ilal jannah.

Dalam kesempatan tersebut, Ibu Nyai Hj. Ida Rohmah Susiani juga mengutip maqalah Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam yang berbunyi:

إِلَهِي كَيْفَ أَطْمَعُ فِي عِزٍّ وَأَنْتَ لِي بِالذُّلِّ وَصَفْتَنِي

"Tuhanku, bagaimana aku bisa mengharapkan kemuliaan, sementara Engkau telah menisbatkanku pada kehinaan."

Melalui kutipan tersebut, Ibu Nyai menjelaskan bahwa manusia, bahkan dalam posisi kebaikan sekalipun, tetap memiliki potensi kesalahan. Oleh karena itu, acara istihlal ini menjadi sarana untuk saling meminta halal atas kesalahan dan kekhilafan yang telah dilalui.

Ustadz Dr. Soehardjoepri, M.Si. selaku Direktur Lembaga Pendidikan Al-Haramain turut menguatkan bahwa acara istihlal ini memiliki dua tujuan utama, yaitu saling meminta halal dan mempererat silaturahim.

Pertama, saling meminta halal merupakan anjuran langsung dari Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, Beliau Ustadz Soehardjoepri menekankan pentingnya loman hati, menahan amarah, serta menjadi pribadi yang mudah memaafkan. Memaafkan merupakan respon jiwa dan hati untuk melepaskan berbagai anasir negatif dalam diri, seperti iri, dengki, dan dendam.

Beliau Ustadz Soehardjoepri juga menggambarkannya melalui pelajaran hidup yang dinasihatkan oleh Abina wa Murabbi Ruhina KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin, bahwa kehidupan ini ibarat kora-kora -yakni bahasa jawa yang biasa digunakan untuk kegiatan mencuci piring. Gesekan dan benturan adalah sebuah keniscayaan, namun yang terpenting adalah adanya sikap saling memaafkan agar tidak menimbulkan perpecahan.

Kedua, acara istihlal ini menjadi sarana silaturahim yang dapat membawa keberkahan umur dan rezeki.

Sejalan dengan hal yang disampaikan Ustadz Soehardjoeptri, Ibu Nyai juga mengambil pelajaran melalui firman Allah Swt. dalam Surah Ali ‘Imran ayat 133–134 tentang anjuran untuk bersegera meraih ampunan serta karakter orang-orang baik, yang berbunyi:

۞وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 

133.  Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

134.  (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Melalui ayat tersebut, Ibu Nyai menyampaikan tiga kriteria orang yang baik, yakni diantaranya:

Pertama, Alladzīna yunfiqūna fis-sarrā’i wad-dharrā’i, yakni orang-orang yang senantiasa berkontribusi dan berpartisipasi, baik melalui harta, tenaga, ide, maupun gagasan yang didedikasikan untuk kemajuan lembaga pendidikan ini, sangat berpotensi sebagai orang-orang yang menginfaqkan diri di jalan Allah

Kedua, wal-kāzhimīnal ghaizh, yaitu orang-orang yang mampu menahan amarah.

Ketiga, wal-‘āfīna ‘anin-nās, yakni orang-orang yang memaafkan sesama, tidak memiliki ekspektasi berlebihan, serta mudah memaklumi sehingga ringan dalam memberi maaf.

Melalui momen Idulfitri ini, segenap pimpinan PPK Alif Laam Miim dan LPI Al-Haramain mengajak untuk menjadikannya sebagai momentum saling memaafkan, agar kita kembali dalam keadaan suci, layaknya bayi yang tanpa noda dan dosa. Aminn Allahumma Aminn

Terakhir, panitia istihlal PPK Alif Laam Miim menyampaikan salam hangat serta ta’dzim, sekaligus mohon maaf apabila dalam penyelenggaraan acara masih terdapat kekurangan, baik dalam aspek gupuh, aruh, dan suguh.

Langit cerah di pagi hari,
Angin sejuk menyapa diri.
Istihlal menjadi jembatan hati,
Menguatkan ukhuwah menuju ilahi.

Bunga melati tumbuh di halaman,
Harum semerbak sepanjang jalan.
Dari panitia kami haturkan permohonan,
Mohon maaf atas khilaf dan kekurangan









Salam Ta'dzim,

Zuhrotul Maryam

 

 

 

 

 






Ada Pertanyaan Tentang Kami? chat WhatsApp kami
Assalamu`alaikum, Ada yang bisa kami bantu? ...
Click me to start the chat...